Senin

Hernowo: Agama, Buku dan Pendidikan Kita

Hernowo: Agama, Buku dan Pendidikan Kita


Dikutip oleh Peluang Wirausaha Gratis dari http://mizan.com/news_det/hernowo-agama-buku-dan-pendidikan-kita.html

Pada Agustus 2004, saya membuat buku untuk para guru. Buku itu berjudul Bu Slim dan Pak Bil; Menggagas Kembali Pendidikan Berbasis Buku (Penerbit MLC, Bandung, 2004). Buku saya ini pernah diulas secara menarik oleh mantan Menteri Pendidikan Nasional RI, A. Malik Fadjar, ketika beliau memberikan kata pengantar untuk sebuah buku hasil penelitian yang diterbitkan oleh UIN Sunan Kalijaga. Menurut Pak Malik, sudah semestinya penyelenggaraan pendidikan itu berpijak pada buku. Hanya, apakah faktanya demikian?



Kata-kata Pak Malik Fadjar itu muncul kembali di dalam pikiran saya ketika saya menjadi narasumber di sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Puslitbang Bidang Lektur Kementerian Agama RI pada Rabu, 18 April 2012 lalu. Saya diminta membahas topik “Fenomena Perkembangan Buku Keagamaan di Era Cyberspace”. Salah satu fenomena yang saya sampaikan pada seminar tersebut adalah tentang diperlukannya buku-buku pendidikan agama yang memiliki paradigm baru. Saya pun merujuk (dan kemudian mengutipkan) sebuah artikel menarik di harian Kompas edisi Jumat, 13 Januari 2012.

Artikel menarik itu berjudul “Mengubah Paradigma Pendidikan Agama” yang ditulis oleh Agus Nuryatno, dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Agus menulis artikelnya dengan merujuk ke pemikiran Jack Seymour (1977) dan Dr. Tabita (2009). Disebutkan oleh Agus bahwa terdapat tiga model pendidikan agama: (1) in the wall, (2) at the wall, dan (3) beyond the wall. Model yang pertama mengajarkan agama sesuai ajaran agama tersebut, tanpa disertai dialog dengan agama lain. Model yang kedua sudah lebih baik dari yang pertama karena lebih terbuka yaitu mengajarkan agama dengan cara mendiskusikan sebuah agama dengan agama lain.

Namun, untuk zaman sekarang –zaman cyberspace, di mana interaksi masyarakat yang sangat beragam sudah begitu tinggi dan mudah- diperlukan model pendidikan agama yang ketiga: beyond the wall. Model yang ketiga ini tidak berhenti hanya berdialog dengan orang-orang yang berbeda agama, tetapi sudah mengajak seorang pemeluk agama tertentu untuk bekerja bersama dengan pemeluk agama lain. Bekerja bersama dalam hal apa? Bekerja bersama dalam mengampanyekan nilai-nilai luhur, seperti perdamaian, keadilan, harmoni, dan pelibatan mereka dalam kerja kemanusiaan.

Lebih jauh, model pendidikan agama beyond the wall juga menegaskan bahwa musuh agama bukanlah pemeluk agama yang berbeda; musuh agama yang sesungguhnya adalah kemiskinan, kebodohan, radikalisme, ketidakjujuran, korupsi, manipulasi, kerusakan lingkungan, dan seterusnya. Apakah mungkin kita membuat buku pendidikan agama yang memiliki paradigm baru bernama beyond the wall tersebut?
Dalam diskusi, bukan soal apakah kita -bangsa Indonesia- memiliki peluang membuat buku pendidikan agama dengan paradigm baru, yang menarik perhatian peserta seminar. Yang malah santer terdengar adalah apakah pendidikan kita benar-benar berbasis buku? Buku-buku memang dicetak dan diedarkan untuk keperluan pendidikan kita di sekolah-sekolah, tapi apakah buku-buku itu dibaca dalam arti dipahami dan dimanfaatkan untuk mengembangkan pikiran? Usai seminar, saya pun berniat membuat buku lagi untuk para guru dengan judul "Menyelenggarakan Pendidikan Berbasis Kegiatan Membaca".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar